Translate

Selasa, 16 Januari 2018

MENYOAL LGBT RUANG TABLIGH DAKWAH BIL QALAM, GERAKAN LITERASI



MENYOAL LGBT
            Isu LGBT, ibarat patologi sosial yang tak kunjung pulih, hampir setiap saat penyakit ini bangkit dan menuntut hak yang sama untuk diperlakukan layaknya kaum yang normal, bahkan berbagai tuntutan pun dilayangkan, mulai dari pengakuan kesamaan hak, diterima oleh khalayak ramai sebagai bagian dari keragaman masyarakat, budaya, sampai pada isu HAM pun didengung-dengungkan. Apa sebenarnya dan bagaimanakah LGBT itu? Tulisan singkat ini akan sedikit membahasnya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

APA ITU LGBT?
            Hubungan sesama jenis atau disebut homoseksual adalah rasa ketertarikan secara emosional, seksual, personal, atau gabungan dari ketiganya. Bila pelakunya laki-laki disebut gay, dan bila perempuan disebut lesbian. Menurut informasi, bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan pasti tentang faktor penyebab munculnya orientasi seksual sesama jenis pada manusia. Namun begitu, para peneliti mempercayai bahwa orientasi seksual manusia ditentukan oleh kombinasi dari sejumlah faktor, yang di antaranya adalah: lingkungan, budaya, emosional, hormonal, dan biologis. Perilaku homoseksual antara pelaku satu dengan yang lain sangat mungkin dilatarbelakangi oleh faktor penyebab yang berbeda-beda. Tapi, faktor sosial: pengaruh lingkungan dan budaya, ditengarai menjadi faktor terbesar yang membentuk perilaku homoseksual dewasa ini.

SEJARAH LGBT
            LGBT atau GLBTadalah akronim dari " Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender." istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an. Sejarah homoseksual atau LGBT sudah ada pada masa Mesir Kuno, sementara itu sikap masyarakat terhadap hubungan sesama jenis telah berubah dari waktu ke waktu dan berbeda secara geografis.
            Khusus di Barat sendiri, LGBT dimulai sejak Era Revolusi Perancis pada 1791 ketika sekularisme mulai mendapat tempat sementara peran agama terutama gereja tidak lagi relevan dalam sosial, politik dan ekonomi hingga jatuhnya pemerintahan Turki Uthmaniyyah, masyarakat Barat yang pada awalnya berada dalam zaman kegelapan mulai membebaskan diri dari ikatan beragama. Tindakan ini telah melahirkan satu masyarakat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang menjadikan kehendak manusia tanpa batasan (humanisme) sebagai tuhan sampai munculnya golongan yang mulai berani memperjuangkan orientasi seks yang menyimpang berdalilkan kebebasan berkendak dan hak asasi manusia. Mulai dari sinilah penyakit moral ini mulai tersebar ke seluruh dunia. Meski awalnya keberadaan kaum LGBT di barat (Eropa) bukan hanya dilarang oleh masyarakat dan institusi agama, tetapi juga dilarang secara hukum dan di kriminalkan oleh negara.
            Pada tahun 1960-an kaum LGBT atau GLBT (hampir seluruh Eropa) secara tegas menuntut kesamaan hak dengan warga negara lainnya tanpa membedakan orientasi seksualnya.
            Di Amsterdam, pada tanggal 4 Mei 1970 Aksi Kelompok gay Muda Amsterdam atau Amsterdamse Jongeren Aktiegroep Homoseksualiteit melakukan aksi peringatan nasional untuk para korban meninggal akibat kekerasan yang dialami korban homoseksual. Pada tahun 1990-an istilah LGBT atau GLBT ini banyak di gunakan di Amerika Serikat.
            Pada bulan Mei 1979, dicetuskan dari ide anggota Center for Culture and Recreation sebuah organisasi lesbian yang didirikan pertama kali di Amsterdam tahun 1946 untuk mendirikan sebuah monument peringatan bagi kaum homoseksual yang bekerja sama dengan kelompok gay dari Partai Sosialist Pasifist (The Gay Group of The Pasifist Socialist Party).
            Ide ini mendapat dukungan dari kelompok gay dan lesbian, baik dari individu maupun kelompok yang terdiri dari 7152,- group lesbian dan gay juga dukungan dan antusiasme dari dunia internasional. Tidak semua orang yang disebutkan setuju dengan istilah LGBT atau GLBT. Contohnya ada yang berpendapat bahwa pergerakan transgender dan transeksual tidak sama dengan lesbian, gay, dan biseksual (LGB). Seorang Psikiatri Ilmu Kejiwaan berpendapat bahwa baik heteroseksualitas maupun homoseksualitas adalah bentukan norma, sementara "biseksualitas" adalah kondisi normal manusia yang ditolak oleh masyarakat. Sebuah kamus kedokteran tahun 1901 mengurutkan heteroseksualitas sebagai ketertarikan seksual yang "menyimpang" lawan jenis, sedangkan pada 1960-an heteroseksualitas disebut "normal".   Banyak publik tidak mengetahui bahwa gerakan LGBT untuk bisa diterima di masyarakat luas, sudah dimulai semenjak tahun 60-an. Memang benar bahwa homoseksual tidak lagi dicantumkan sebagai sebuah penyakit mental di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II) pada 1973. DSM adalah “Alquran”-nya para psikolog dan psikiater di seluruh dunia untuk menentukan kategorisasi penyakit-penyakit mental. DSM selalu direvisi tiap beberapa tahun berdasarkan hasil penelitian yang valid. Pencabutan homoseksual dari DSM pada 1973, yang berdampak pada pandangan bahwa homoseksual bukan lagi sebagai penyakit jiwa, dilakukan bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi, berdasarkan adanya desakan politik dan demonstrasi besar-besaran. Gerakan ini merupakan rentetan dari pergerakan hak kebebasan warga Amerika kulit hitam pada 1950-an.  Persamaan hak warga Amerika kulit hitam ini juga berimbas pada munculnya gerakan feminis dan juga aktivis gay yang mencapai puncaknya di Amerika pada 1970-an.

TIGA FAKTOR PENYEBAB LGBT
            Ketua Pusat Kerja Gugus (PKG) Paud Kecamatan Matraman Nini Fitriani, yang juga seorang pakar psikologi anak menyebutkan ada 3 (tiga) faktor yang menyebabkan seseorang bisa masuk dalam lingkaran LGBT
  1. pengasuhan yang salah atau kurang tepat sejak anak dilahirkan. Misalnya, orang tua yang ingin anak laki-laki tapi ketika lahir dapatnya anak perempuan. Kemudian orang tua tersebut memperlakukan anaknya seperti anak laki laki.
  2. disebabkan karena tidak adanya figur ayah atau figur ibu dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena banyak faktor, seperti Bisa jadi karena ayah atau ibu meninggal, bisa juga karena ayah atau ibu berpisah atau bisa juga ayah atau ibu lengkap tapi tidak menjalankan fungsinya sebagai ayah dan ibu yang seharusnya, dengan alasan ayah dan ibu sibuk bekerja memenuhi kehidupan keluarga.
  3. faktor lingkungan juga cukup besar mempengaruhi seseorang untuk menjadi LGBT. Faktor teman sebaya atau pergaulan anak atau remaja, jika ada teman dekat yang memiliki kecenderungan LGBT, kemudian anak sangat akrab dan sering berinteraksi dengannya sehinga bisa terjadi tertular apakah sengaja atau tidak sengaja.

VARIASI STRUKTUR OTAK PENGARUHI ADANYA GEN LGBT?
            Berdasarkan narasumber seorang ahli bedah syaraf di Indonesia Dr. Roslan Yusni Hassan (Ryu Hassan) mengatakan, lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu bukanlah sebuah penyakit. Lebih jauh lagi bahwa orientasi seks terhadap sesama jenis adalah sebuah perbedaan biasa di dalam hidup. Hal ini disebabkan karena para LGBT mempunyai struktur otak yang berbeda dari orang yang non-homoseksual. Tidak ada yang bisa “mengotak-atik” struktur otak. Dengan kata lain jika struktur otak LGBT berbeda dengan yang non-LGBT maka hal ini adalah sesuatu yang natural dan alamiah. Karena itulah yang sudah didesain oleh “pabrik” otaknya (baik dalam segi struktur maupun fungsi). Terimalah LGBT untuk menjadi dirinya sendiri, begitu ringkasan pernyataan Ryu Hassan. Seolah ingin ingin agar masyarakat menerima kaum LGBT sebagai hal yang kodrati. Namun apakah pernyataan Ryu Hassan tersebut valid dan bisa dipertanggung jawabkan? Sesungguhnya filter terbaik dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan.
                William James, seorang psikolog Amerika Serikat, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide bahwa otak itu bisa mengorganisasikan (merubah) dirinya sendiri. Hal itu dikenal untuk hari ini dalam ilmu yang mempelajari otak (neuroscience) dengan istilah neuroplasticity, sebuah istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Jerzy Konorski, seorang neuroscientist asal Polandia pada 1948. Neuroplasticity mendobrak kebuntuan pemikiran dunia kedokteran yang terkungkung dalam konsep yang salah tentang otak selama tiga abad: otak manusia berhenti berkembang pada umur tertentu.
            Penemuan konsep ini menyatakan, bahwa otak manusia berubah-ubah baik struktur maupun fungsinya sampai kapan pun tergantung dari pengalaman yang dilakukan. Pengalaman ini meliputi lingkungan, perilaku, pemikiran, persepsi, perasaan, emosi, dan bahkan kebiasaan berimajinasi sekalipun. Otak tak ubahnya seperti plastik yang bisa berubah bentuk dan sangat fleksibel. Lalu apa yang menyebabkan perubahan tersebut? Jawabannya adalah perilaku dan pengalaman yang kita buat.
               Donald Hebb, psikolog asal Kanada, mengemukakan sebuah ungkapan yang terkenal, Neurons fire together, wire together (Syaraf yang aktif bersamaan, akan membentuk jaringan secara bersamaan pula). Pemikiran, perasaan, orientasi seksual, persepsi, termasuk sensasi fisik yang dibayangkan, mengaktifkan ribuan syaraf secara bersamaan. Ketika sebuah pemikiran ataupun perasaan tersebut diulang terus menerus, maka ribuan syaraf tersebut akan membentuk dan menguatkan jaringan sistem syaraf yang unik untuk pemikiran atau perasaan tersebut.
            Adanya konsep neuroplasticity ini menyampaikan bahwa perbedaan struktur otak tidak serta merta menyebabkan seseorang mempunyai orientasi seksual LGBT. Tetapi, kebiasaan, pengalaman, dan gaya hidup yang dibangunlah yang bisa mengubah struktur dan fungsi otak hingga menghasilkan orientasi dan perasaan intim terhadap sesama jenis. Dengan kata lain, bahwa perbedaan struktur otak yang terjadi, bukanlah karena faktor bawaan dari “gen LGBT” tapi lebih disebabkan oleh faktor perilaku manusia itu sendiri.
            Menyatakan dengan serta-merta bahwa LGBT disebabkan karena adanya faktor perbedaan dari struktur otak sangatlah naif dan hal itu tidak berdasarkan pemikiran yang mendalam dan komprehensif dengan mempertimbangkan penelitian yang mutakhir.
            Cara kerja sistem syaraf amatlah rumit. Perbedaan struktur maupun fungsi otak bisa berubah karena adanya sebuah pengalaman yang terus-menerus dilakukan. Adanya perbedaan struktur dan fungsi otak para LGBT bisa disebabkan karena lingkungan dan kebiasaan yang mereka lakukan; sebagai contoh, di mana dan dengan siapa mereka bergaul, mendiskusikan tentang seks, mempunyai pengalaman yang pahit karena dikecewakan oleh lawan jenis, dan kebiasaan berimajinasi dalam keintiman dengan sesama jenis.

DAMPAK KESEHATAN       
            Sejumlah penyakit berbahaya yang rentan menjangkiti pelaku perbuatan menyimpang ini salah satunya adalah HIV/AIDS. Penularan HIV adalah risiko pertama hubungan seks sesama jenis. Di Indonesia, separoh pengidap HIV adalah pelaku homoseksual.
            Penyakit kedua adalah sipilis. Hasil survei menunjukkan bahwa pada 2013, 11,3% penderita penyakit kelamin ini adalah pelaku homoseksual. Mereka rentan terkena lantaran aktivitas anal seks. Anal seks sering memicu luka karena dubur tak menghasilkan pelumas. Luka tersebut menjadi pintu masuk bakteri, khususnya terponema pallidum yang adalah penyebab penyakit sifilis.
            Penyakit kelamin lainnya adalah gonore alias kencing nanah. Penyakit ini bila berlarut dapat memicu infeksi testis dan menyebabkan masalah kesuburan.
            Ada juga penyakit non kelamin yang rentan menyebar di kalangan pelaku homoseksual, yakni Hepatitis B. Sebabnya adalah, virus mematikan ini bisa menular melalui cairan seksual.

BERKACA KEPADA KISAH KAUM NABI LUTH
                        Gempa mengakibatkan letusan lava serta semburan gas metana dan berakhir dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati. Salah satu azab Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Alquran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diazab Allah karena melakukan praktik homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom sehingga praktik homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi.Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, Kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.
            Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir balik masuk kedalam Laut Mati.Layaknya orang jungkir balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Begitu pula Kota Sodom, saat runtuh dan terjungkal, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke dalam laut, sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ''Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.'' (Surat Huud [11]: ayat 82).
            Hasil penelitian ilmiah kontemporer menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat Kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah. Patahan itu berawal dari tepi Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, hingga berakhir di Afrika.
            Biasanya, bila dua lempengan kerak bumi ini bergeser di daerah patahan, akan menimbulkan gempa bumi dahsyatyang diikuti dengan tsunami (gelombang laut yang sangat besar) yang menyapu kawasan pesisir pantai.Juga, biasa diikuti dengan letusan lava/lahar panas dari perut bumi.Hal seperti itu pula yang terjadi pada Kota Sodom, sebagaimana diungkap peneliti Jerman, Werner Keller,"Bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini, yang persis melewati daerah ini, Lembah Siddim, termasuk Sodom dan Gomorah, dalam satu hari terjerumus ke kedalaman (Laut Mati). Kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan petir, keluarnya gas alam, serta lautan api. Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanis (berupa gempa) yang telah lama tertidur sepanjang patahan."Dengan keterangan ilmiah tersebut, dapat direkonstruksi kembali bagaimana azab Allah itu menimpa umat Nabi Luth yang ingkar kepada-Nya.
            Bencana itu didahului dengan sebuah gempa yang menyebabkan tanah menjadi merekah. Dari rekahan itu, muncul semburan lahar panas yang menghujani penduduk Kota Sodom. Di bawah pesisir Laut Mati, juga terdapat sejumlah besar timbunan kantung-kantung gas metana yang mudah terbakar.Kemungkinan besar, letusan lava serta semburan gas metana itulah yang Allah maksudkan dalam Alquran dengan hujan batu dari tanah yang terbakar. Bencana itu diakhiri dengan terjunnya Kota Sodom bersama penduduknya ke dalam Laut Mati.             Serangkaian percobaan ilmiah di Universitas Cambridge membenarkan teori ini. Para ilmuwan membangun tiruan tempat berdiamnya kaum Luth di laboratorium, lalu mengguncangnya dengan gempa buatan. Sesuai perkiraan, dataran ini terbenam dan miniatur rumah tergelincir masuk, lalu terbenam di dalamnya.Penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah ini mengungkap satu kenyataan penting bahwa kaum Luth yang disebutkan Alquran memang pernah hidup pada masa lalu, kemudian merekapunah diazab Allah akibat kebejatan moral mereka. Semua bukti terjadinyabencana itu kini telah terungkap dan benar sesuai dengan pemaparan Alquran.

BISA DISEMBUHKAN!
               Orang yang memiliki orientasi seksual menyimpang ini hendaknya segera berkonsultasi ke dokter, psikiater, dan/atau psikolog, guna mendapatkan petunjuk dan solusi musibah besar tersebut sedini mungkin. Dan yang pasti, langkah spiritual harus dijadikan hal pertama dan utama yang harus ditempuh. Dalam Islam, perbuatan itu sudah jelas diharamkan. Apabila pelaku sudah meyakini demikian, tentu dorongan batin untuk bertobat dan kembali normal akan kuat. Dan tentu saja, peran kita semua, kaum Muslim, harus ada. Paling tidak mendoakan, atau kalau bisa menasihati dengan lembut dan memberi pendampingan berkelanjutan. Bukan mencaci, menghina, yang akan membuat mereka semakin menjauh dari kebenaran dan terjerumus ke dalam kesesatan.
            Seorang pakar psikologi Tika Bisono, menyatakan bahwa perilaku LGBT dapat disembuhkan dengan terapi psikologi. Adapun lama penyembuhannya, tergantung dari kondisi gangguan atau penyimpangannya. Dalam banyak kasus, pelaku LGBT telah banyak yang disembuhkan, dengan pendampingan psikologis yang intens dan penciptaan lingkungan religius yang memadai. (dikutip dari berbagai sumber)

Sabtu, 30 Desember 2017

PERGUMULAN DIANTARA TIGA UMMAT BESAR



Ruang Tabligh
Ini adalah salah satu program kerja dari bidang tabligh PC. IMM ENREKANG, semoga bermanfaat dan bisa menambah khazanah pengetahuan keislaman kita semua. In syaa Allah akan hadir secara berkala. mohon doa dan dukungannya.


PERGUMULAN DIANTARA TIGA UMMAT BESAR
            Sejarah seharusnya membuat kita belajar, membuat kita sadar tentang arah masa depan kita. Sejarah harusnya memberi kita arah untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas mengambil langkah di masa kini dan masa depan, sebagaimana yang dikatakan oleh Pearl Buck bahwa, “ jika ingin tahu masa kini, maka kamu harus melihat masa lalu”.
            Sejarah seharusnya menjadi sumber motivasi bagi siapa saja yang mempelajarinya. Belajar sejarah sesungguhnya bukan mempelajari masa lalu, tetapi bagaimana merancang masa depan. Dengan sejarah kita bisa melihat masa depan. Hal ini seakan mendapat pembenaran dari beberapa ahli yang pernah meneliti kitab suci Al-Qur’an, yang 75% isinya adalah sejarah. Sejarah yang dalam pengungkapannya berupa kisah para nabi dan rasul Allah, serta kisah-kisah ummat terdahulu. Salah satu kisah yang paling monumental yang diabadikan oleh Allah swt, di dalam Al-Qur’an, yakni sejarah pergumulan diantara tiga ummat besar.
            Di dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman, yang artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah: 120)
            Dalam ayat tersebut, tergambar jelas betapa dingin dan rumitnya hubungan diantara tiga ummat besar, dari tiga Rasul besar, yang masing-masing dibekali tiga kitab besar, yang kesemuanya bersumber dari Dzat yang satu, Yang Maha Besar. Ajaran yang bersumber dari Dzat yang satu disikapi berbeda oleh masing-masing ummatnya.
            Ummat Yahudi merasa paling unggul tidak mau menerima ummat Nasrani. Sementara ummat Nasrani membela diri, dan ketika datang ummat Islam diantara mereka, mereka pun segera menolaknya dengan caranya masing-masing. Pertanyaannya adalah, mengapa ketiga ummat yang bersaudara ini memaksakan kehendaknya masing-masing? Bukankah ketiga-tiganya oleh Allah swt dibekali akal pikiran untuk menjalani kehidupannya sendiri-sendiri?
            Ajaran yang dimaksud di sini adalah risalah tauhid, risalah yang pernah dibawa oleh seluruh nabi dan rasul sejak dari nabi Adam As hingga nabi Muhammad saw, sebagaimana yang disinyalir di dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl: 36, yang artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
            Berdasarkan ayat di atas, dapat difahami bahwa Allah swt telah mengutus para nabi dan rasul kepada setiap ummat manusia yang pernah hidup di muka bumi ini, dari kalangan mereka sendiri. Diutusnya para nabi dan rasul tersebut bertujuan untuk mengajak umat manusia kembali kepada fitrahnya, yakni berupa fitrah ketauhidan, yang pernah diikrarkan oleh seluruh ummat manusia ketika di alam rahim. (QS. 7: 172). Tauhid adalah tema sentral dalam al-Qur'an, hampir semua pembahasan selalu mengarah kepada tauhid-pengEsaan Allah­, baik masalah ibadah maupun masalah sosial. Masalah ini memang sangat krusial sebab tauhidlah inti dari semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul sejak nabi Adam As. hingga nabi Muhammad Saw. Kemudian, inti dari risalah tauhid tersebut, yakni direfleksikan langsung oleh Allah swt dengan kalimat, “Sembahlah Allah swt, dan jauhilah thaghut itu”. Menurut jumhur ulama, thaghut adalah syaithon dan apa saja yang disembah, selain Allah swt. Selain itu, dalam ayat ini, Allah juga menegaskan bahwa bagi mereka yang menginginkan hidayah dan berusaha untuk mencarinya maka mereka akan diberikan hidayah oleh-Nya, dan demikian pula sebaliknya mereka yang hatinya cenderung kepada kesesatan maka mereka akan memperoleh kesesatan yang diusahakannya itu. Maka Allah swt menutup ayat ini dengan ajakan untuk berjalan di muka bumi, menelusuri jejak-jejak peradaban ummat terdahulu dan melihat bagaimana akhir dari peradaban mereka, terutama yang ingkar terhadap para nabi dan rasul. Hal ini tidak lain bertujuan agar manusia bisa mengambil pelajaran (ibrah) dari hal tersebut, karena Al-Qur’an memang diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat manusia.
            Mencermati pergumulan diantara tiga ummat besar, tidak bisa dilepaskan dari sejarah Bani Izrail yang merupakan cikal bakal ummat Yahudi dan ummat Nasrani. Menurut Hj. Irena Handono, dalam bukunya Islam Dihujat, bahwa nabi Musa As, diutus untuk menyeru umatnya yakni ummat Yahudi dan umat manusia secara keseluruhan untuk menyembah Allah swt semata. Hal ini yang kemudian menyebabkan beliau berhadapan dengan bangsa Mesir yang menuhankan Fir’aun. Singkat cerita, nabi Musa As berhasil dengan amanah yang diembannya, Fir’aun mati tenggelam di laut merah dan sepeninggal nabi Musa. As, kitab Taurat kemudian diwariskan kepada ummatnya dengan harapan agar risalah tauhid yang ada di dalamnya disebarkan kepada ummat manusia seluruhnya. Akan tetapi, di sinilah masalahnya karena ummat Yahudi adalah ummat yang oleh Allah swt, dibekali banyak sekali karunia, dan Al-Qur’an banyak menyinggung akan hal itu. Diantara kelebihan yang mereka punya, yakni kemampuan akal yang di atas rata-rata bila dibandingkan dengan ummat yang lain (QS. 2: 47). Dan hal inilah yang kemudian membuat mereka “merasa berbeda” kalau tidak ingin menyebut “istimewa” atas ummat-ummat yang lain. Sikap “merasa berbeda” dan paling unggul seperti ini, kemudian ditonjolkan dengan menggunakan materi sebagai tolok ukurnya. Dengan kata lain, ummat Yahudi lebih disibukkan dengan urusan keduniaan berupa pencarian materi sebagai bukti shahih keunggulan mereka atas ummat manusia mana pun. Akibatnya ajaran nabi Musa. As tergantikan oleh kepentingan duniawi, dan risalah tauhid pun terhenti di tengah jalan karena memang ditelantarkan dan tidak diserukan oleh ummat Yahudi kepada ummat manusia secara umum.
            Atas arogansi ummat Yahudi, maka Allah swt mengutus nabi dan rasul berikutnya yaitu nabi Isa. As, untuk melanjutkan kembali penyebaran risalah tauhid yang pernah dibawa oleh nabi Musa. As serta para nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Isa. As kemudian diikuti oleh banyak kalangan dari Bani Izrail, khususnya yang berdomisili di daerah Nazareth, sehingga pengikut nabi Isa. As kemudian dikenal dengan istilah kaum Nasrani, yang dinisbatkan kepada daerah tempat tinggal mereka.
            Akan tetapi ummat Yahudi yang merasa paling unggul, kemudian menolak risalah kenabian dan kerasulan Isa. As dan mereka kemudian bersiasat dan sepakat menyoroti masalah kelahiran nabi Isa. As, sebagai tema sentral untuk menyudutkan beliau. Dengan sangat kejam, ummat Yahudi menuding bahwa nabi Isa. As adalah anak yang lahir di luar hubungan nikah, alias anak haram. Perlakuan semacam ini tentu saja mendapat reaksi pembelaan dari ummat Nasrani yang notabene adalah pengikutnya, akan tetapi disatu sisi mereka juga kesulitan untuk menjawab tudingan ummat Yahudi terkait dengan masalah kelahiran nabi Isa. As.
            Sepeninggal nabi Isa. As, sikap yang bermula dari pembelaan menjadi berlebihan ketika bercampur dengan kepentingan, yakni kepentingan untuk berlindung dari tudingan ummat Yahudi yang masih saja mempersoalkan masalah kelahiran nabi Isa. As. Sikap berlebihan ini tampak jelas dari keyakinan mereka yang menganggap nabinya bukan lagi sebagai manusia tapi lebih dari itu diangkat ke derajat Tuhan. Dengan kata lain, bahwa nabi Isa. As, oleh ummat Nasrani bukan lagi diyakini sebagai manusia utusan Tuhan, tapi lebih dari itu, yakni sebagai perwujudan dari Tuhan itu sendiri. Sehingga dengan demikian mereka pun merasa nyaman untuk berlindung dari tudingan ummat Yahudi, terkait dengan masalah kelahiran nabi Isa. As.
            Akan tetapi mereka sadar betul, bahwa secara logika, manusia tidak akan sampai pada derajat Tuhan jika masih ada “perantara” antara manusia yang dipertuhankan dengan Tuhan yang sejati, yakni Allah swt. Yang dimaksud dengan “perantara” di sini, adalah keberadaan malaikat Jibril (Roh Qudus) sebagai perantara atau pembawa wahyu dari Allah swt, kepada nabi Isa. As. Maka untuk memperkokoh argumentasi yang mereka bangun, yakni untuk menghilangkan “perantara” atau keberadaan malaikat Jibril (Roh Qudus), maka mau tidak mau malaikat Jibril (Roh Qudus) harus masuk dalam jajaran yang sama, sehingga lahirlah dogma trinitas. Dogma inilah yang kemudian menyingkirkan keberadaan risalah tauhid dari keyakinan mereka yang tampak jelas pula di dalam  kitab Injil yang mereka yakini sejak saat itu hingga saat ini.
            Penyudutan ummat Yahudi, memang keterlaluan sementara pembelaan ummat Nasrani, berlebihan. Untuk menjelaskan bahwa seorang perempuan suci bisa saja melahirkan seorang bayi tanpa ayah, agaknya menjadi kesulitan tersendiri bagi ummat Nasrani saat itu, sehingga mereka pun menganggap tepat untuk tetap bertahan dibalik dogma trinitas yang mereka rumuskan sekehendak hawa nafsu mereka sendiri.
            Sesungguhnya dogma trinitas tidak pernah diajarkan oleh para nabi dan rasul mana pun, dan tidak juga berasal dari sisi Allah swt. Dogma trinitas hanyalah konsep ketuhanan yang palsu, yang lahir dari hawa nafsu segolongan ummat manusia, yakni ummat Nasrani. Dan atas perbuatan mereka yang demikian, maka Allah swt mengecam habis perbuatan mereka, sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman yang artinya:
            Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Izrail, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
            Dalam ayat tersebut, tergambar secara sangat gamblang bahwa Allah swt sama sekali tidak rela diri-Nya diserupakan dengan makhluk-Nya, sehingga dalam ayat ini dimulai dengan kata-kata “sungguh kafir”. Kemudian Dia lebih banyak mengabadikan pengakuan nabi Isa. As, mengenai hakikat dirinya, bahwa dia hanyalah seorang nabi dan rasul, yang diutus oleh-Nya untuk menyerukan risalah tauhid, sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya, dan tidak ingin dipertuhankan oleh ummat manusia mana pun.
            Terdapat banyak sekali ayat-ayat suci, yang senada dengan ayat di atas, diantaranya ialah Al-Maidah: 73; 75; 116; 117; 118. Ali-Imran: 79-80, Al-Kahfi: 1-8, An-Nisa: 171-172, dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya ayat-ayat yang sejenis, maka patut diduga bahwa inilah alasan di balik permusuhan ummat Nasrani terhadap ummat Islam, dimana kitab suci kita ini, secara terang-terangan menyelisihi dogma trinitas yang merupakan keyakinan paling fundamental bagi ummat Nasrani. Sehingga imbasnya adalah mereka senantiasa ingin menjerumuskan kita dengan berbagai macam program-program kristenisasi, yang dikemas dalam beragam festival kebudayaan non Islami, ajang pencarian bakat, program televisi, dan lain-lain. Baik secara terang-terangan, maupun secara terselubung dan baik secara halus maupun dengan kekerasan dan perang.
            Sejarah ummat Yahudi, adalah sejarah tentang keingkaran. Jika mereka mengingkari risalah kenabian dan kerasulan Isa. As, hanya karena faktor kelahirannya, maka untuk nabiyullah Muhammad saw, mereka mengingkari risalah kenabian dan kerasulannya hanya karena faktor keturunannya. Faktor kelahiran maupun faktor keturunan, bukanlah hal yang subtantif dalam penyebaran risalah tauhid oleh para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt, namun bagi segolongan ummat manusia berfikiran picik yang dalam hal ini ditunjukkan oleh ummat Yahudi, hal tersebut senantiasa dibesar-besarkan. Jika boleh mengutip pernyataan dari Al-Ustadz Abu Yahya Badrussalam, bahwa:
ummat Yahudi adalah ummat yang sangat berbangga-bangga akan nasab mereka, hampir separuh dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui, adalah berasal dari kalangan Bani Izrail. Sehingga dengan demikian, ummat Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari Bani Izrail sangat berbangga-bangga akan hal tersebut. Sementara itu di sisi lain, ketika mereka mendapati bangsa Arab jahiliyah yang masih menyembah berhala, mereka senantiasa mengecamnya dan menakut-nakuti mereka dengan kabar akan kedatangan nabi dan rasul yang terakhir, sebagai penyempurna wahyu dan penutup serta penghulu para nabi dan rasul, dialah sang nabi akhir zaman yang akan menghapuskan segala bentuk kemusyrikan dan kekafiran, dengan membawa risalah tauhid. Akan tetapi ketika nabi dan rasul yang dimaksud benar-benar telah tiba dan mereka tahu bahwasanya dia bukanlah berasal dari kalangan mereka, yakni Bani Izrail, melainkan berasal dari kalangan bangsa Arab, bangsa yang senantiasa dinilai sebagai komunitas dengan tingkat peradaban yang paling rendah, maka dengan serta merta mereka pun mengingkari risalah kenabian dan kerasulannya.
            Sementara bagi ummat Nasrani, sikap berlebih-lebihan dalam bentuk pembelaan mereka terhadap nabi mereka, yakni Isa. As yang kemudian menjerumuskan mereka kepada kesesatan yakni berupa kultus individu pada diri nabi Isa. As yang dengan itu kemudian melahirkan doktrin trinitas, sekali lagi doktrin yang menyingkirkan risalah tauhid dari keyakinan mereka.

(tulisan ini sepenuhnya terinspirasi, dari sebuah buku yang sangat fenomenal karya Ibunda Hj. Irena Handono, yakni ISLAM DIHUJAT! Menjawab buku THE ISLAMIC INVATION karya Robert Morey. Dengan beberapa perubahan yang seperlunya).

Jumat, 22 Desember 2017

Secercah Aksi Untuk Palestina



Dunia dibuat heboh oleh pernyataan sepihak presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang secara sepihak memindahkan dan menyetujui pemindahan Ibukota Israel yang dulunya berada di Tel Aviv ke kota suci Yerusalem. sontok seluruh dunia bereaksi atas putusan sepihak ini, bukan hanya negara muslim yang dengan tegas mengutuk keras pernyataan Donal Trump ini tapi juga negara-negara yang minoritas muslim pun kompak bergabung merapatkan barisan menantang putusan yang dapat menjadi gerbang Perang dunia ketiga ini.

seperti diketahui bahwa Yerusalem merupakan kota suci agama samawi yakni Islam, Kristen dan Yahudi. dan Yerusalem sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Internasional  Persyerikatan Bangsa-Bangsa yang artinya bahwa kota ini tidak boleh dijadikan oleh ibukota negara manapun. melayangnya gugatan dan kecaman atas pernyataan sepihak ini tak lain atas keprihatinan warga dunia atas konflik berkepanjangan yang terjadi anatara Palestina dan Israel. sehingga jika Yerusalem menjadi Ibukota Israel maka, zionis Israel akan dengan leluasa menindas rakyat palestina yang sudah sangat menderita atas penjajahan mereka.

meluapnya aksi protes ini bak jamur dimusim hujan. utamannya Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia maka, secara bergiliran massif rakyat Indonesia dari penghujung Sabang sampai Merauke, ramai-ramai menolak putusan ini.

begitupula yang menginisiasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang, yang kemudian tergabung dengan nama Aliansi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang. untuk turun kejalan menyuarakan kecaman atas pengkaliman secara sepihak oleh Donal trump ini. Aliansi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang merupakan sekumpulan mahasiswa STKIP Muhamamdiyah Enrekang yang tergabung dalam beberapa organisasi kemahasiswaan yang teridiri atas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), HIMA Prodi dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Aksi solidaritas untuk Palestina ini murni merupakan dorongan rasa persaudaraan sesama muslim sekaligus menjadi ajang dukungan moril bagi saudara-saudara muslim yang ada di Palestina. aksi damai ini berpusat di lampu merah tepatnya di depan Masjid Taqwa Muhammadiyah Enrekang, yang didahului dengan orasi yang sampiakan oleh semua ketua organisasi kemahasiswaan STKIP Muhammadiyah Enrekang dan juga oleh beberapa dosen STKIP Muhammadiyah itu sendiri. selain orasi massa yang berkumpul juga membakar foto Donald Trump dan Bendera Israel sebagi bentuk kemarahan atas perbuatan keji yang selama ini mereka lakukan.


setelah itu pembacaan pernyataan sikap oleh aliansi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Enrekang yang intinya menentang dan mengecam putusan itu dan sekaligus menyeru kepada seluruh umat islam dan masyarakat dunia untuk memboikot segala macam produk Amerika dan Israel sebagai bentuk pelemahan ekonomi agar kedua negara ini tidak lagi menjadi negara super power.

Penulis Qurniawan Rusli.
tulisan ini untuk saudraku di Palestina. '' kita memang dipisahkan oleh jarak, tapi kita di satukan oleh islam". duka Palestina adalah duka kami semua.

#save_palestine.


Minggu, 03 Desember 2017

Intelektual Paripurna

https://lh3.googleusercontent.com/-7vjbjKTOEfc/WiQJCtyw8JI/AAAAAAAAAng/LpTKChohHhEYPVyUI6NykkjV87QoCO_3gCEwYBhgL/h120/







kaum intelektual pada zaman sekarang ini lebih di identikan dengan nama Mahasiswa. betapa tidak karena yang akan melajutkan estafet kepemimpinan bangsa kedepanya, yang menjadi tumpuan utama harapan akan itu ada pada pundak mahasiswa. untuk itu mahasiswa di tuntut agar senantiasa memperbarui pembendaharaan kaeilmuanya sebagai modal utama menyongsong hari esok yang lebih cerah.

namun hal itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. butuh doa, usaha dan ketekunan untuk dapat mewujudkan hal itu. karena ''kerja intelektual adalah kerja seumur hidup, melelahkan dan tidak pernah puas'' itulah kemudian salah satu pesan dari Ahmad Syafi'i Ma'arif. sebagai   wake up call kepada semua elemen masyarakat utamanya mahasiswa terlebih lagi bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.  sebab tantangan kedepan akan sangat berat, jalan yang ditempuh akan sangat terjal, masalah yang akan datang akan silih berganti.

dalam proses pemenuhan kapasistas keilmuan atau kerja intelektual itu maka kader-kader IMM dituntut untuk senantiasa mengamalkan kata pertama yang turun dalam al-Quran yakni kata ''iqra''. yang senantiasa menjadi roh bagi aktivis IMM untuk senantiasa memenuhi dahaga akan keilmuan .

tentunya dalam proses menuntut ilmu itu tidaklah cukup kemudian hanya mengandalkan proses pembelajaran di kelas saja, namun kader IMM harus jelih melihat dan melirik sumber belajar yang lain, sehingga nantinya tidaklah hanya mengandalkan dosen sebagai sumber ladang utama memanen ilmu. maka dari itu kader-kader IMM harus menanamkan spirit "Intelektual Paripurna'' berilmu secara penuh, kapanpun, dimanapun dan apapun kegiatanya harus kemudian tidak boleh meniggalkan kesan keilmuan.

maka kader IMM dengan pembendaharaan keilmuanya akan senantiasa menjadi bola lampu yang akan menarik orang-orang disekitarnya dengan ilmu yang mereka miliki. sesuai dengan salah satu poin penegasan IMM yakni Ilmu amaliah, Amalan Ilmiah.

oleh karena itu waktunya menatap kedepan senatiasa memperbaiki kualitas diri memperkaya diri dengan budaya literasi sebagai modal berharga meraih masa depan yang cerah. karena masa depan ditentukan dengan apa yang kita lakukan hari ini, bukan besok.

penulis Qurniawan Rusli.

Rabu, 29 November 2017

Merajut Tali Silaturahmi di Moment Milad Muhammadiyah


dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan. ??
pepatah lama ini yang kemudian senantiasa menghiasi hidup dan kehidupan manusia sehari-harinya. di setiap pertemuan ada moment kebersamaan yang tidak akan pernah bisa terulang sehingga pertemuan senantiasa dimamfaatkan untuk melepas rasa rindu diantara sesama.

hal ini yang kemudian terangkum dan terasa di kalangan aktivis mahasiswa utamanya Ikatan Mahasiwa Muhammadiyah, sebagai organiasasi kemahasiswaan dengan skala nasioanal sampai internasional menajdikan kader-kader IMM bertaburan di seantero negri ini mulai dari sabang sampai di ujung merauke. dengan banyaknya kader yang tersebar di seluruh daerah kabupaten/kota menjadikan para aktivis IMM bisa membangun jaringan memperbanyak teman dan kenalan dari berbagai daerah. terkhusu di Sulawesi Selatan hampir semua kabupaten/kota yang ada semuanya memiliki cabang masing-masing. inilah yang kemudian membuat kader IMM bisa saling mengenal satu sama lain.

umumnya mereka dipertemukan dalam forum Darul Arqam Madya (DAM), atau perkaderan tingkat menengah yang ada di IMM. agenda yang hampir tiap tahun dilaksanakan oleh cabang-cabang IMM, selain sebagai ajang pembentukan karakter kepemimpinan, kegiatan inipun dijadikan sebagai ranah membangun koneksi dan jaringan antar sesama kader dari cabang yang berbeda. begitu berkesanya pengalaman yang di dapat dalam moment DAM menjadikan para kader IMM meskipun berbeda latar belakang budaya dan kepribadian tetapi mereka tetap saling akrab dan solid.

tentunya perkaderan DAM adalah agenda yang berbatas waktu. oleh karena itu pertemuan yang terjalin,keakraban yang terbangun harus dipisakan oleh waktu. namun hal itu tidak melunturkan rasa persaudaraan yang ada.

ini kemudian terbukti di moment Milad Muhammadiyah ke 108 di Kabupaten Jeneponto pada tanggal 25 November yang lalu. acara milad ini dijadikan sebagai ajang melepas rindu sesama kader IMM dengan teman seperjuangan yang berasal dari cabang yang lain. sekaligus menjadi momentum untuk merekatkan kembali tali silaturahmi.

"Kita Memang Tak Sedarah
tapi ....
Kita Semua adalah Saudara "

Penulis Qurniawan Rusli

Kamis, 23 November 2017

Sinetron Ancaman Moral Generasi Muda

   


   seiring dengan berkembangnya zaman di bidang teknologi informasi dan komunikasi.maka semakin bertambah pula peran signifikan yang harus diemban oleh generasi muda saat ini. begitu pesatnya perkembangan teknologi saat ini menjadika batasan antar negara kian kabur, bahkan dengan canggihnya teknologi sekarang kejadian yang ada di belahan dunia yang lain bisa disaksikan secara langsung melalui layar kaca atau tv. masing-masing.

     namun perkembangan teknologi yang kian pesatnya akan senantiasa berdampak kepada kehidupan masyarkat itu sendiri. ibarat koin yang memiliki dua sisi tentulah ada hal fositive dan hal negative yang bisa di ambil di tengah kian berkembang pesatnya teknologi tersebut. pada ksempatan ini penulis akan fokus kepada media televisi (tv) yang kini menjadi kebutahan primer di kalangan masyarakat indonesia bukan hanya di kota tetapi telah merambah ke hampir seluruh pelosok desa yang ada.

     saking digandrunginya tv ini sebagai media hiburan utama hampir di semua rumah-rumah warga terpampang siaran-siaran tv yang secara massif selam 24 jam menayangkan segala macam informasi yang di muat kedalamnya.

     tidak hanya menyajikan berita tetapi Tv juga menayangkan drama Sinetron (Sinema Elektronik) yang setiap jam selalu menghiasi layar kaca. namun dibalik digandrunginya sinetron ada hal yang harus menjadi fokus utama kita semua sebagai penikmat siaran tv. sering kali generasi muda di rusak moralnya dengan budaya yang tidak sesuai dengan budaya bangsa ini, anggaplah contoh pacaran.

    Pacaran bagi sebagian orang saat ini bukanlah hal yang tabu, tapi sudah menjadi kebiasaan bahkan hampir menjadi budaya dikalangan masyarakat. Tua, muda semuanya akan di buat mabuk kepayang ketika sudah bertemu dengan yang namanya pacaran. lantas kenapa bisa budaya pacaran yang nyata-nyata tidak sesuai dengan jati diri bangsa ini bisa dengan massifnya menggerogoti semua lapisan masyarakat, tua,muda, kaya dan miskin semuannya tidak terlepas dari hal yang satu ini.

   bagi penulis yang menjadi pemasok utama, budaya pacaran adalah dengan adanya sinetron. kenapa??. karena setiap hari anak-anak senatiasa disuguhi adengan berpacaran yang mereka dapat liat dari sinetron. sangat susah rasanya mendapi sinetron sekarang yang tidak mengangkat adegan berpacaran. ibarat sayur tanpa garam, sinetron tanpa pacaran rasanya hambar gitu. karena seringnya generasi muda diperlihatkan dengan hal semacam ini sehingga tertanam di otak mereka bahwa pacaran adalah hal yang sah dilakukan.

   belum lagi dengan aak-anak SD sekarang yang lebih hafal lagu pembuka sinetron ketimbang lagu Indonesia raya. untuk itu penulis berharap kepada semua orang tua agar senantiasa menyeleksi konten-konten yang dapat merusak generasi muda, mengawasi dan membimbing tontonan anak-anak. kepada para pembuat sinerton, harapanya agar buatalah sinetron yang dapat menginspirasi generasi muda bukan malah merusak generasi muda.

penulis; Qurniawan Rusli